Kamis, 26 Desember 2024
27
Selasa, 24 Desember 2024
padahal.
Senin, 23 Desember 2024
Jumat, 13 Desember 2024
tenang.
Kamis, 12 Desember 2024
Tolong.
Sabtu, 07 Desember 2024
Kota.
Jumat, 06 Desember 2024
turun.
Rabu, 04 Desember 2024
wish.
Kamis, 28 November 2024
seram.
Rabu, 27 November 2024
ideal
Sehat.
Jumat, 22 November 2024
tenang.
Sayang.
salah.
aku.
Kamis, 21 November 2024
pikiranmu.
Menikah.
Senin, 18 November 2024
baju besi.
Minggu, 17 November 2024
Baik.
mendung.
Sabtu, 16 November 2024
Hangry.
Senin, 11 November 2024
Ke siapa?
Minggu, 27 Oktober 2024
Penuh.
Sabtu, 26 Oktober 2024
Bertele-tele
Senin, 21 Oktober 2024
nangis.
Minggu, 20 Oktober 2024
Sabtu, 19 Oktober 2024
Boleh.
Obsesi.
Jumat, 18 Oktober 2024
pikiran.
Kamis, 17 Oktober 2024
Waktu.
Di sana.
Selasa, 15 Oktober 2024
Kendali.
Tidur.
Oversharing.
Halo.
Ekspektasi.
pulang.
Dua tahun lalu.
Malam ini, aku teringat dengan sesuatu yang terjadi dua tahun lalu.
***
Hari pertama masuk kantor.
Di dalam angkutan umum, sekitar pukul setengah tujuh pagi.
Ponselku berbunyi, ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
"Assalamualaikum. Benar ini nomor Afifah?"
Sebuah pesan singkat tapi entah kenapa membuat jantungku berdegup dengan lebih cepat.
"Iya. Maaf, ini nomor siapa, ya? Maaf ya, belum disimpan nomornya."
Dibalas dengan cukup cepat.
"Ini ___. Gapapa, ini nomor baru." Ternyata nomor seorang kakak tingkat yang berbeda jurusan di kampus. Entah kenapa pikiranku mulai menebak-nebak sebuah kemungkinan, tapi aku singkirkan dan berusaha tetap tenang.
"Oh, kak ___. Ada apa, kak?" tidak dipungkiri degupan jantungku lebih cepat lagi.
"Afifah sudah ada yang mengkhitbah?"
Deg. Sepertinya dugaanku benar. Rasanya tidak ingin membalasnya lagi, tetapi sepertinya itu jahat.
"Belum."
"Alhamdulillah kalau begitu. Bismillah, kakak ada niat untuk bertaaruf dengan Afifah. Apakah Afifah berkenan? Jika iya, nanti kakak cari perantaranya. Namun jika tidak, tidak apa-apa."
Tanpa berpikir dua kali aku langsung memutuskan.
"Sebelumnya terima kasih kak atas niat baiknya. Tapi maaf, sepertinya aku belum siap."
Balasannya datang cukup cepat.
"Baik, tidak apa-apa. (Aku lupa dia mendoakanku apa)"
"Maaf ya kak, semoga kakak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku, hehe."
"Aamiin Yaa Rabbal'alamiin. Terima kasih."
Setelah itu badanku gemetar. Rasanya ingin menangis saat itu juga dan pulang ke rumah. Entah kenapa. Tapi tidak jadi. Aku tetap pergi ke kantor dengan pikiran dan perasaan tidak karuan. Rasanya takut, khawatir, cemas, tidak menyangka, semua jadi satu.
***
Kejadian itu sudah hampir dua tahun yang lalu. Di hari pertama bekerja setelah lulus kuliah.
Setelah menolak seperti itu aku langsung buru-buru mencari di google, "Hukum menolak taaruf" wkwkwkwkwk karena takut itu kalau itu ternyata dosa. Tapi ternyata enggak, kok, hehe. Perempuan itu berhak menolak laki-laki kalau dirasa memang tidak ada rasa tertarik dan tidak sesuai dengan dirinya. Selengkapnya tentang tolak menolak cari aja di google ya, karena bukan itu inti cerita ini, haha.
Beneran. Rasanya waktu itu pingin banget langsung pulang dan nangis. Kalau ditanya kenapa..
gak tau juga. Aneh emang Afifah ni.
Tapi karena itu hari pertama kerja, aku tetap masuk dengan pikiran entah kemana. Satu-satunya yang ku kabari soal ini cuma mbak. Setelah pulang baru ku kabari ayah dan beliau cuma ketawa sambil bilang jangan lupa balas dengan baik-baik, gitu aja.
Kalau ditanya, "kenapa ditolak?"
Ya...sesederhana gak ada perasaan apa-apa dan belum siap. Gak ada alasan lainnya.
Kalau dibilang dari segi fisik, no. Aku pernah langsung memalingkan muka dan tidak sengaja bergumam, "eh Ya Allah kenapa manis banget...." ketika dia membantu di salah satu acara kampus dan bertanya aku perlu dibantu apalagi. Tapi yaudah, abis itu ilang dibawa angin perasaan kagumnya. Setelahnya biasa saja.
Dari segi akademis? Dia adalah salah satu mahasiswa jurusan yang dikenal sulit di fakultas dan sering ikut perlombaan tingkat nasional. Dia juga pernah menjadi ketua di salah satu organisasi keagamaan.
Dari segi kepribadian dan agama? Gak usah ditanya lagi.
Jadi ya murni karena memang belum siap dan tidak ada rasa. Ada sekian banyak laki-laki hampir sempurna di dunia ini tapi gak semuanya lantas membuat kalian suka kan? Nah, kayak gitu. Dia hampir sempurna tapi aku gak suka. Gitu aja.
Agak bingung juga sebenarnya kenapa bisaaaaaa kakak hampir sempurna itu tertuju pada sesosok perempuan yang weqndiefiehdkjnfi ini. Menyukai dirinya sendiri aja susah banget, kok ini ada yang suka.
Tatatatapi sekali lagi bukan itu inti bahasan kita kali ini.
***
Pelajaran yang ku ambil dari kejadian itu adalah,
seperti itu sosok yang benar-benar serius.
Mungkin kalau kakak itu bisa mendapatkan kontak ayah, ayah yang akan dia hubungi pertama kali. Bukan aku.
Ketika yang dia dapatkan nomorku pun, dia menghubungiku untuk mengutarakan hal yang benar-benar langsung ke intinya. Gak bertele-tele. Bahkan gak perlu prolog untaian kata-kata manis ala-ala sinetron yang katanya islami itu.
Dia menawarkan kepastian,
dan memberikan aku 'kewenangan' untuk memutuskan.
Ketika aku menolak pun, tidak ada paksaan, tidak ada kata-kata yang membuat bimbang atau membuatnya terlihat ingin dikasihani.
Mungkin Allah ingatkan aku lagi malam ini.
Di kali pertama aku dipertemukan dengan hal seperti itu, aku melihat dan diperlakukan dengan cara paling baik.
Dari kejadian itu, aku tau.
Aku punya standarku.
:)
Yang penasaran si kakak akhirnya gimana. Alhamdulilah setahun kemudian dia sudah menikah dan insya Allah berbahagia dengan keluarga kecilnya.
Yang berpikiran "hayo, menyesal ya sekarang?" No. Big no. Enggak. Sama sekali enggak. Aku takut malah kakak itu yang menyesal saat ini kalau jadi sama aku.
wkwkwkwkwk
Angin.
yakin.
Senin, 29 Juli 2024
Pura pura
Jariku terluka.
Kecil, tapi cukup dalam.
Dan aku tidak suka melihatnya.
Aku ingin dia tertutup dengan segera.
Perasaanku tidak nyaman saat melihatnya seperti masih sama di setiap hari.
Karena itu aku memutuskan menutupnya dengan plester luka.
Ya, agar aku tidak melihatnya.
Tapi, kemudian aku sadar.
Sepertinya aku memperlakukan diriku dengan sama untuk luka-luka yang gak kasat mata.
Aku memaksanya untuk sembuh dengan segera dan agar aku merasa nyaman, aku seolah tidak melihatnya.
Padahal dia masih ada.
Senin, 10 Juni 2024
Lari.
Andai orang-orang tahu, kalau mereka hanyalah pelarian.
Dari sebuah perasaan tidak nyaman.
Dari pikiran yang tak karu-karuan.
Seandainya aku selalu bisa mengendalikan keduanya.
Sepertinya, aku tidak butuh siapa-siapa.
Karena semakin banyak manusia, semakin banyak suara yang masuk ke kepala.
Lagi.
Rasanya seperti jatuh ke dalam lubang yang sama
tapi kali ini lubangnya sudah sedikit tertutup tanah sehingga tidak terlalu dalam.
Sakit? Iya. Namanya juga jatuh. Bagaimana, sih.
Sepertinya aku belum bisa menyeimbangkan diri berjalan di atas tanah bernama ekspektasi.
Atau memilih mana tanah ekspektasi yang perlu ku pijak, dan mana yang tidak.
Sehingga ketika kenyataan menyentuhku, aku mudah goyah, lalu jatuh.
Lagi-lagi. Di atas tanah benama ekspektasi.
Apa?
Awalnya ingin mencari platform menulis yang lain karena..
entah.
Rasanya menulis di sini sudah tidak nyaman.
Aku membagikan tautan blog ini ke media sosial lain karena berharap isi di dalamnya dapat menjadi sesuatu yang menyejukkan untuk siapapun yang tertarik untuk membacanya.
Setelah beberapa orang (yang masih membuatku tidak percaya) mengatakan terima kasih untuk beberapa hal yang ku tulis karena, yah, secara tidak sengaja "menenangkan" mereka. Atas izin-Nya.
Tapi rasanya lama kelamaan seperti ada orang-orang yang kurang menyenangkan membaca tulisan-tulisanku lalu berusaha untuk, menjadi "pahlawan"?
Tapi menulis di platform lain rasanya seperti memulai semuanya dari awal.
Jadi ku putuskan untuk mengabaikan orang-orang itu dan tetap menulis di sini.
Karena toh, aku sebenarnya tidak peduli.
Nanti.
Aku pasti bahagia, nanti.
Aku akan mencoba, nanti.
Aku akan lebih rajin, nanti.
Aku pasti bisa lebih baik, nanti.
Kenapa harus "nanti"?
Tidak ada yang tahu apakah waktu "nanti" itu akan datang atau tidak.
Bahkan bisa jadi tidak akan pernah datang.
Berbahagialah, sekarang.
Cobalah, sekarang. Tidak apa-apa jika gagal. Tidak ada manusia yang bisa menentukan hasil usahanya.
Jadilah lebih baik dalam hal apapun yang kamu suka dan harus lakukan.
Saat ini juga.