"Tak sekali pun aku pernah benci padanya, angin."
"Pernah. Kamu pernah hampir membencinya," kata angin.
"Iya, tapi setelah itu aku lupa rasanya."
Angin terdiam.
"Ya sudah. Biarkan Tuhan yang menyampaikan. Kamu tak perlu."
angin segera berlalu setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Dia tak mau berlama-lama.
Gadis itu menatap kepergian angin sambil sesekali mengusap dadanya. Dimana ada ruang kosong penuh dengan rasa sakit berada.