Blinking Hello Kitty Angel Jurnal Bunga Matahari: Dua tahun lalu.

Selasa, 15 Oktober 2024

Dua tahun lalu.

Malam ini, aku teringat dengan sesuatu yang terjadi dua tahun lalu. 

                                                                                    ***

Hari pertama masuk kantor. 

Di dalam angkutan umum, sekitar pukul setengah tujuh pagi. 

Ponselku berbunyi, ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. 

"Assalamualaikum. Benar ini nomor Afifah?"

Sebuah pesan singkat tapi entah kenapa membuat jantungku berdegup dengan lebih cepat. 

"Iya. Maaf, ini nomor siapa, ya? Maaf ya, belum disimpan nomornya."

Dibalas dengan cukup cepat. 

"Ini ___. Gapapa, ini nomor baru." Ternyata nomor seorang kakak tingkat yang berbeda jurusan di kampus. Entah kenapa pikiranku mulai menebak-nebak sebuah kemungkinan, tapi aku singkirkan dan berusaha tetap tenang.

"Oh, kak ___. Ada apa, kak?" tidak dipungkiri degupan jantungku lebih cepat lagi. 

"Afifah sudah ada yang mengkhitbah?" 

Deg. Sepertinya dugaanku benar. Rasanya tidak ingin membalasnya lagi, tetapi sepertinya itu jahat.  

"Belum."

"Alhamdulillah kalau begitu. Bismillah, kakak ada niat untuk bertaaruf dengan Afifah. Apakah Afifah berkenan? Jika iya, nanti kakak cari perantaranya. Namun jika tidak, tidak apa-apa."

Tanpa berpikir dua kali aku langsung memutuskan. 

"Sebelumnya terima kasih kak atas niat baiknya. Tapi maaf, sepertinya aku belum siap."

Balasannya datang cukup cepat. 

"Baik, tidak apa-apa. (Aku lupa dia mendoakanku apa)"

"Maaf ya kak, semoga kakak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku, hehe." 

"Aamiin Yaa Rabbal'alamiin. Terima kasih."

Setelah itu badanku gemetar. Rasanya ingin menangis saat itu juga dan pulang ke rumah. Entah kenapa. Tapi tidak jadi. Aku tetap pergi ke kantor dengan pikiran dan perasaan tidak karuan. Rasanya takut, khawatir, cemas, tidak menyangka, semua jadi satu. 

                                                                        ***

Kejadian itu sudah hampir dua tahun yang lalu. Di hari pertama bekerja setelah lulus kuliah. 

Setelah menolak seperti itu aku langsung buru-buru mencari di google, "Hukum menolak taaruf" wkwkwkwkwk karena takut itu kalau itu ternyata dosa. Tapi ternyata enggak, kok, hehe. Perempuan itu berhak menolak laki-laki kalau dirasa memang tidak ada rasa tertarik dan tidak sesuai dengan dirinya. Selengkapnya tentang tolak menolak cari aja di google ya, karena bukan itu inti cerita ini, haha. 

Beneran. Rasanya waktu itu pingin banget langsung pulang dan nangis. Kalau ditanya kenapa..

gak tau juga. Aneh emang Afifah ni. 

Tapi karena itu hari pertama kerja, aku tetap masuk dengan pikiran entah kemana. Satu-satunya yang ku kabari soal ini cuma mbak. Setelah pulang baru ku kabari ayah dan beliau cuma ketawa sambil bilang jangan lupa balas dengan baik-baik, gitu aja. 

Kalau ditanya, "kenapa ditolak?" 

Ya...sesederhana gak ada perasaan apa-apa dan belum siap. Gak ada alasan lainnya. 

Kalau dibilang dari segi fisik, no. Aku pernah langsung memalingkan muka dan tidak sengaja bergumam, "eh Ya Allah kenapa manis banget...." ketika dia membantu di salah satu acara kampus dan bertanya aku perlu dibantu apalagi. Tapi yaudah, abis itu ilang dibawa angin perasaan kagumnya. Setelahnya biasa saja. 

Dari segi akademis? Dia adalah salah satu mahasiswa jurusan yang dikenal sulit di fakultas dan sering ikut perlombaan tingkat nasional. Dia juga pernah menjadi ketua di salah satu organisasi keagamaan. 

Dari segi kepribadian dan agama? Gak usah ditanya lagi. 

Jadi ya murni karena memang belum siap dan tidak ada rasa. Ada sekian banyak laki-laki hampir sempurna di dunia ini tapi gak semuanya lantas membuat kalian suka kan? Nah, kayak gitu. Dia hampir sempurna tapi aku gak suka. Gitu aja. 

Agak bingung juga sebenarnya kenapa bisaaaaaa kakak hampir sempurna itu tertuju pada sesosok perempuan yang weqndiefiehdkjnfi ini. Menyukai dirinya sendiri aja susah banget, kok ini ada yang suka. 

Tatatatapi sekali lagi bukan itu inti bahasan kita kali ini. 

                                                                               ***

Pelajaran yang ku ambil dari kejadian itu adalah, 

seperti itu sosok yang benar-benar serius.

Mungkin kalau kakak itu bisa mendapatkan kontak ayah, ayah yang akan dia hubungi pertama kali. Bukan aku. 

Ketika yang dia dapatkan nomorku pun, dia menghubungiku untuk mengutarakan hal yang benar-benar langsung ke intinya. Gak bertele-tele. Bahkan gak perlu prolog untaian kata-kata manis ala-ala sinetron yang katanya islami itu. 

Dia menawarkan kepastian, 

dan memberikan aku 'kewenangan' untuk memutuskan.  

Ketika aku menolak pun, tidak ada paksaan, tidak ada kata-kata yang membuat bimbang atau membuatnya terlihat ingin dikasihani. 

Mungkin Allah ingatkan aku lagi malam ini. 

Di kali pertama aku dipertemukan dengan hal seperti itu, aku melihat dan diperlakukan dengan cara paling baik. 

Dari kejadian itu, aku tau. 

Aku punya standarku. 

:)





Yang penasaran si kakak akhirnya gimana. Alhamdulilah setahun kemudian dia sudah menikah dan insya Allah berbahagia dengan keluarga kecilnya. 

Yang berpikiran "hayo, menyesal ya sekarang?" No. Big no. Enggak. Sama sekali enggak. Aku takut malah kakak itu yang menyesal saat ini kalau jadi sama aku. 

wkwkwkwkwk