Dibandingkan karena orang lain, seringkali kita sakit hati karena ulah sendiri.
Begini misalnya,
Seorang teman tidak mengerjakan tugas sesuai dengan ekspektasimu.
Kamu kecewa.
Apakah itu salahnya?
Menurutku, dia tidak sepenuhnya bersalah.
Rasa kecewamu bukan salahnya.
Rasa kecewa itu muncul karena ekspektasimu.
Dari awal, dia tidak menjanjikan ekspektasi itu, kan?
Bahkan mungkin dia sudah berusaha semampunya.
Atau misalnya,
Kamu kecewa pada seseorang yang kamu harapkan sesuatu padanya.
Apakah sakit hatimu adalah kesalahannya? Tidak juga.
Harapanmu penyebabnya.
Mungkin dia salah karena membuatmu menaruh harap.
Tapi, kamu punya pilihan untuk tidak membuka hati dan menyusun harapan, bukan?
Yah, itu realitanya.
Secara tidak sadar, ternyata beberapa manusia memang suka menyakiti diri sendiri, ya?
Semenjak berpikir seperti itu, aku tidak lagi berharap orang-orang yang menyakiti perasaanku merasakan hal yang sama juga.
Aku hanya berharap, mereka menyadari.
Ada seseorang yang sudah menaruh harap dan ekspektasi tinggi.
Ada seseorang yang sudah percaya sebegitu besarnya pada mereka.
Dan tidak pernah menyangka, mereka semudah itu mematahkan harapannya.
Tapi kadang,
harapan itu tidak sampai pada tujuan.
Sering kali, hal terbaik dan paling baik hanyalah
memaafkan.