"Malam yang tenang dan tidur yang nyenyak adalah hadiah untuk jiwa-jiwa yang sudah berusaha menjalankan peran dan kewajibannya di waktu siang."
Iya, ya. Malam itu harusnya menjadi waktu tenang untuk pikiran dan badan.
Tapi, entah, untukku malam adalah waktu ketika tubuh dan pikiranku bertentangan.
Tubuhku lelah. Dia ingin mendapatkan haknya untuk beristirahat.
Sementara pikiranku mencari cari alasan untuk tetap bekerja.
Dengan memutar berbagai memori yang bahkan di siang hari aku tidak mengingatnya, sama sekali.
Harus ini, harus itu, belum ini, belum itu, kenapa begini, kenapa begitu, ingat tidak waktu ini, ingat tidak waktu itu.
Mungkin itu salah satu sebab dzikir sebelum tidur ada.
Agar jiwa jiwa manusia bisa lebih tenang menutup harinya.
Agar tercipta waktu untuk bersyukur atas apa yang telah terjadi, dan meminta ampun atas dosa-dosa yang dilakukan, pun atas kebaikan-kebaikan yang luput karena kelalaian.
Dan dengan perlahan aku bisikkan pada pikiran,
Jangan lupa zikir dan soalnya sebelum tidur, ya. Selamat beristirahat, terima kasih sudah berusaha hari ini. Jangan lupa bersyukur karena Allah sudah mudahkan semuanya. Yang sudah kita lakukan hari ini, ya sudah, bersyukur atas baiknya, dan buruknya, sebisa mungkin esok tidak lagi diulangi. Dan untuk yang belum kita lakukan, semoga Allah memberi kita kesempatan untuk berusaha lebih baik lagi nanti. Sudah cukup bekerjanya, jangan terlalu keras memikirkan yang sudah dan belum terjadi.