Rasanya seperti jatuh ke dalam lubang yang sama
tapi kali ini lubangnya sudah sedikit tertutup tanah sehingga tidak terlalu dalam.
Sakit? Iya. Namanya juga jatuh. Bagaimana, sih.
Sepertinya aku belum bisa menyeimbangkan diri berjalan di atas tanah bernama ekspektasi.
Atau memilih mana tanah ekspektasi yang perlu ku pijak, dan mana yang tidak.
Sehingga ketika kenyataan menyentuhku, aku mudah goyah, lalu jatuh.
Lagi-lagi. Di atas tanah benama ekspektasi.