Blinking Hello Kitty Angel Jurnal Bunga Matahari: Oktober 2024

Minggu, 27 Oktober 2024

Penuh.

Takut kehilangan ini, 
Takut kehilangan itu, 
Khawatir ini, 
Khawatir itu, 

Kamu sadar nggak, sih, di dunia ini nggak ada yang benar-benar punya kamu? 

Semuanya fasilitas dari Allah, dan namanya dipinjamkan, ya, kapanpun diminta kembali harus mau. 

Dan, kamu sadar nggak, sih, cerita hidupmu itu udah ditulis sejak 5000 tahun sebelum semua diciptakan? 

Kamu tinggal menjadi pemeran yang masih diberikan kesempatan untuk membuat berbagai pilihan. 

Tapi, semua sudah ada jalan ceritanya. 

Jadi, coba itu kepalanya diistirahatkan dari hal-hal yang nggak sedalam itu harus dipikirkan. 

Kamu punya akses langsung untuk meminta kepada Yang Menciptakanmu. Kenapa nggak digunakan?

Sabtu, 26 Oktober 2024

Bertele-tele

Tidak terburu buru itu nggak sama dengan bertele-tele, ya. 
Tidak terburu-buru itu, sudah yakin dengan keputusan tetapi tetap tenang sambil berusaha se-maksimal mungkin, berdoa, di sisi lain menyerahkan semuanya sama Allah.
Kalau bertele-tele itu, 
masih dihinggapi ragu tapi nggak mau menetapkan keyakinan dengan memohon pertolongan Allah, nanti-nanti aja, coba-coba dulu, apa iya begini dan begitu, usaha minimal, berdoa apalagi.
Kamu masih menyandarkan sebuah keputusan penting pada dirimu sendiri.


Jauh-jauh, gih. Waktu nggak banyak. 

Senin, 21 Oktober 2024

nangis.

"Kamu masih suka nangis nggak kalau inget bapak?....."
"Aku masih suka nangis kalau inget ibuk."

Minggu, 20 Oktober 2024

tenang.

Tak mungkin lagi aku cari ketenangan itu selain pada Tuhanku.

tidur.

Tidak apa-apa jika saat ini kamu selalu tertidur di malam hari dengan hati yang berat dan penuh harap. 
Semoga menjadi penghapus dosa-dosa yang tidak terkira banyaknya.

Sabtu, 19 Oktober 2024

Boleh.

Boleh, kok, sedih.
Tapi, jangan lama-lama.
Kamu nggak tau seberapa lama jatah usia. 
Gimana kalau ternyata seluruhnya kamu habiskan untuk sedih? 
Iya, sih. Dunia ini cuma jembatan dan sementara. 
Tapi, rasanya sayang kalau indah indahnya nggak kamu nikmati sama sekali.
Karena Allah ciptakan itu juga pasti nggak sia-sia.
Kan?

Obsesi.

Untuk apa terobsesi dan mengingat ngingat manusia yang mungkin bahkan dia tidak peduli jika tidak akan bertemu denganmu lagi? 

Jumat, 18 Oktober 2024

pikiran.

Apakah pikiranmu layaknya sebuah pemutar film otomatis? 
Jika sudah membuat sebuah rentetan adegan yang lagi-lagi hanya ada di kepalaku, dia tidak akan mudah berhenti.
Setelahnya, kamu lelah.

Kamis, 17 Oktober 2024

Waktu.

Nyadar nggak, sih, kalau pergantian hari sekarang cuma kayak mengedipkan mata?
Secepat itu.
Rasanya baru kemarin siang, sekarang sudah siang lagi.

Kalau dulu pas disuruh nunggu waktu berlalu secepat ini juga, sih...



aku tetap milih nggak mau. 


cerita.

Bagaimana rasanya bercerita dengan ibu?
Aku sudah lupa rasanya sejak 12 tahun lalu.

Di sana.

Mungkin ketika sampai di sana.
Dia sudah penuh dengan luka.

Maklumi, ya.
Dia berjalan melalui semak berduri itu sendirian.
Belajar, mencari, dan menemukan celah dan rute terbaik untuk melanjutkan perjalanan. 

Tapi, tenang. Ketika sampai di sana, ia tidak akan membebanimu untuk menyembuhkan apalagi merawat luka-lukanya.
Obat terbaik sudah dia temukan. 
Dia bisa berusaha menyembuhkan dan merawat luka-lukanya sendiri.

Mungkin, jika mungkin bersedia, kamu hanya perlu menemani.

Selasa, 15 Oktober 2024

Kendali.

Aku terbiasa memaksa diri menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. 
Tapi, aku sadar. Ada beberapa hal yang berada di luar kendaliku. Dan, itu bukan salahku. Karena ada peran orang lain di sana. 

Aku memiliki standar cukupku. Tapi, aku sadar. Orang lain pun memiliki standar cukupnya sendiri. 

Tidur.

Aku pernah membaca entah dimana, kurang lebih seperti ini maknanya.

"Malam yang tenang dan tidur yang nyenyak adalah hadiah untuk jiwa-jiwa yang sudah berusaha menjalankan peran dan kewajibannya di waktu siang."

Iya, ya. Malam itu harusnya menjadi waktu tenang untuk pikiran dan badan.

Tapi, entah, untukku malam adalah waktu ketika tubuh dan pikiranku bertentangan.

Tubuhku lelah. Dia ingin mendapatkan haknya untuk beristirahat. 

Sementara pikiranku mencari cari alasan untuk tetap bekerja. 
Dengan memutar berbagai memori yang bahkan di siang hari aku tidak mengingatnya, sama sekali. 

Harus ini, harus itu, belum ini, belum itu, kenapa begini, kenapa begitu, ingat tidak waktu ini, ingat tidak waktu itu. 

Mungkin itu salah satu sebab dzikir sebelum tidur ada. 

Agar jiwa jiwa manusia bisa lebih tenang menutup harinya. 

Agar tercipta waktu untuk bersyukur atas apa yang telah terjadi, dan meminta ampun atas dosa-dosa yang dilakukan, pun atas kebaikan-kebaikan yang luput karena kelalaian. 

Dan dengan perlahan aku bisikkan pada pikiran, 

Jangan lupa zikir dan soalnya sebelum tidur, ya. Selamat beristirahat, terima kasih sudah berusaha hari ini. Jangan lupa bersyukur karena Allah sudah mudahkan semuanya. Yang sudah kita lakukan hari ini, ya sudah, bersyukur atas baiknya, dan buruknya, sebisa mungkin esok tidak lagi diulangi. Dan untuk yang belum kita lakukan, semoga Allah memberi kita kesempatan untuk berusaha lebih baik lagi nanti. Sudah cukup bekerjanya, jangan terlalu keras memikirkan yang sudah dan belum terjadi. 

Oversharing.

Bercerita itu seru buatku.
Mendengarkan cerita juga sama serunya.

Semua hal yang menimbulkan rasa antusias, senang, sedih, bingung, apapun itu. 

Tapi, tau apa tantangan untuk seseorang yang suka bercerita? 

Menahan diri untuk tidak over sharing.
Memilah siapa yang pantas, berhak mendengar, dapat dipercaya, dan siapa yang tidak.
Memilah mana yang memang tidak apa untuk diceritakan kepada manusia, mana yang cukup kepada Allah saja. 

Sulit, karena itu aku butuh pertolongan-Nya. Semoga aku dapat selalu jujur kepada-Nya bahwa aku benar-benar butuh dan ingin ditolong. 

Halo.

Membaca blog ini kembali setelah ber.....bulan-bulan tidak menulis lagi.
Dan, ternyata sudah baaaaanyak yang, dengan izin Allah, aku lalui. 
Beberapa postingan sebelum ini adalah postingan yang sebelumnya ada di "draft" dan ketika dibaca lagi, "Kenapa dimasukkin ke draft, ya?" 

Akhirnya diposting lagi.

Ekspektasi.

Dibandingkan karena orang lain, seringkali kita sakit hati karena ulah sendiri. 

Begini misalnya, 

Seorang teman tidak mengerjakan tugas sesuai dengan ekspektasimu. 
Kamu kecewa. 
Apakah itu salahnya? 
Menurutku, dia tidak sepenuhnya bersalah.   


Rasa kecewamu bukan salahnya. 
Rasa kecewa itu muncul karena ekspektasimu. 
Dari awal, dia tidak menjanjikan ekspektasi itu, kan? 
Bahkan mungkin dia sudah berusaha semampunya. 


Atau misalnya,
 
Kamu kecewa pada seseorang yang kamu harapkan sesuatu padanya. 
Apakah sakit hatimu adalah kesalahannya? Tidak juga. 
Harapanmu penyebabnya. 

Mungkin dia salah karena membuatmu menaruh harap.

Tapi, kamu punya pilihan untuk tidak membuka hati dan menyusun harapan, bukan?


Yah, itu realitanya. 
Secara tidak sadar, ternyata beberapa manusia memang suka menyakiti diri sendiri, ya?

Semenjak berpikir seperti itu, aku tidak lagi berharap orang-orang yang menyakiti perasaanku merasakan hal yang sama juga. 

Aku hanya berharap, mereka menyadari. 
Ada seseorang yang sudah menaruh harap dan ekspektasi tinggi. 
Ada seseorang yang sudah percaya sebegitu besarnya pada mereka. 
Dan tidak pernah menyangka, mereka semudah itu mematahkan harapannya. 

Tapi kadang, 
harapan itu tidak sampai pada tujuan. 
Sering kali, hal terbaik dan paling baik hanyalah

memaafkan.

pulang.

Pernah gak kamu berpikir,
kalau misalnya,
bekalmu untuk akhirat sudah cukup.
Kamu ingin pulang saja? 

Dua tahun lalu.

Malam ini, aku teringat dengan sesuatu yang terjadi dua tahun lalu. 

                                                                                    ***

Hari pertama masuk kantor. 

Di dalam angkutan umum, sekitar pukul setengah tujuh pagi. 

Ponselku berbunyi, ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. 

"Assalamualaikum. Benar ini nomor Afifah?"

Sebuah pesan singkat tapi entah kenapa membuat jantungku berdegup dengan lebih cepat. 

"Iya. Maaf, ini nomor siapa, ya? Maaf ya, belum disimpan nomornya."

Dibalas dengan cukup cepat. 

"Ini ___. Gapapa, ini nomor baru." Ternyata nomor seorang kakak tingkat yang berbeda jurusan di kampus. Entah kenapa pikiranku mulai menebak-nebak sebuah kemungkinan, tapi aku singkirkan dan berusaha tetap tenang.

"Oh, kak ___. Ada apa, kak?" tidak dipungkiri degupan jantungku lebih cepat lagi. 

"Afifah sudah ada yang mengkhitbah?" 

Deg. Sepertinya dugaanku benar. Rasanya tidak ingin membalasnya lagi, tetapi sepertinya itu jahat.  

"Belum."

"Alhamdulillah kalau begitu. Bismillah, kakak ada niat untuk bertaaruf dengan Afifah. Apakah Afifah berkenan? Jika iya, nanti kakak cari perantaranya. Namun jika tidak, tidak apa-apa."

Tanpa berpikir dua kali aku langsung memutuskan. 

"Sebelumnya terima kasih kak atas niat baiknya. Tapi maaf, sepertinya aku belum siap."

Balasannya datang cukup cepat. 

"Baik, tidak apa-apa. (Aku lupa dia mendoakanku apa)"

"Maaf ya kak, semoga kakak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku, hehe." 

"Aamiin Yaa Rabbal'alamiin. Terima kasih."

Setelah itu badanku gemetar. Rasanya ingin menangis saat itu juga dan pulang ke rumah. Entah kenapa. Tapi tidak jadi. Aku tetap pergi ke kantor dengan pikiran dan perasaan tidak karuan. Rasanya takut, khawatir, cemas, tidak menyangka, semua jadi satu. 

                                                                        ***

Kejadian itu sudah hampir dua tahun yang lalu. Di hari pertama bekerja setelah lulus kuliah. 

Setelah menolak seperti itu aku langsung buru-buru mencari di google, "Hukum menolak taaruf" wkwkwkwkwk karena takut itu kalau itu ternyata dosa. Tapi ternyata enggak, kok, hehe. Perempuan itu berhak menolak laki-laki kalau dirasa memang tidak ada rasa tertarik dan tidak sesuai dengan dirinya. Selengkapnya tentang tolak menolak cari aja di google ya, karena bukan itu inti cerita ini, haha. 

Beneran. Rasanya waktu itu pingin banget langsung pulang dan nangis. Kalau ditanya kenapa..

gak tau juga. Aneh emang Afifah ni. 

Tapi karena itu hari pertama kerja, aku tetap masuk dengan pikiran entah kemana. Satu-satunya yang ku kabari soal ini cuma mbak. Setelah pulang baru ku kabari ayah dan beliau cuma ketawa sambil bilang jangan lupa balas dengan baik-baik, gitu aja. 

Kalau ditanya, "kenapa ditolak?" 

Ya...sesederhana gak ada perasaan apa-apa dan belum siap. Gak ada alasan lainnya. 

Kalau dibilang dari segi fisik, no. Aku pernah langsung memalingkan muka dan tidak sengaja bergumam, "eh Ya Allah kenapa manis banget...." ketika dia membantu di salah satu acara kampus dan bertanya aku perlu dibantu apalagi. Tapi yaudah, abis itu ilang dibawa angin perasaan kagumnya. Setelahnya biasa saja. 

Dari segi akademis? Dia adalah salah satu mahasiswa jurusan yang dikenal sulit di fakultas dan sering ikut perlombaan tingkat nasional. Dia juga pernah menjadi ketua di salah satu organisasi keagamaan. 

Dari segi kepribadian dan agama? Gak usah ditanya lagi. 

Jadi ya murni karena memang belum siap dan tidak ada rasa. Ada sekian banyak laki-laki hampir sempurna di dunia ini tapi gak semuanya lantas membuat kalian suka kan? Nah, kayak gitu. Dia hampir sempurna tapi aku gak suka. Gitu aja. 

Agak bingung juga sebenarnya kenapa bisaaaaaa kakak hampir sempurna itu tertuju pada sesosok perempuan yang weqndiefiehdkjnfi ini. Menyukai dirinya sendiri aja susah banget, kok ini ada yang suka. 

Tatatatapi sekali lagi bukan itu inti bahasan kita kali ini. 

                                                                               ***

Pelajaran yang ku ambil dari kejadian itu adalah, 

seperti itu sosok yang benar-benar serius.

Mungkin kalau kakak itu bisa mendapatkan kontak ayah, ayah yang akan dia hubungi pertama kali. Bukan aku. 

Ketika yang dia dapatkan nomorku pun, dia menghubungiku untuk mengutarakan hal yang benar-benar langsung ke intinya. Gak bertele-tele. Bahkan gak perlu prolog untaian kata-kata manis ala-ala sinetron yang katanya islami itu. 

Dia menawarkan kepastian, 

dan memberikan aku 'kewenangan' untuk memutuskan.  

Ketika aku menolak pun, tidak ada paksaan, tidak ada kata-kata yang membuat bimbang atau membuatnya terlihat ingin dikasihani. 

Mungkin Allah ingatkan aku lagi malam ini. 

Di kali pertama aku dipertemukan dengan hal seperti itu, aku melihat dan diperlakukan dengan cara paling baik. 

Dari kejadian itu, aku tau. 

Aku punya standarku. 

:)





Yang penasaran si kakak akhirnya gimana. Alhamdulilah setahun kemudian dia sudah menikah dan insya Allah berbahagia dengan keluarga kecilnya. 

Yang berpikiran "hayo, menyesal ya sekarang?" No. Big no. Enggak. Sama sekali enggak. Aku takut malah kakak itu yang menyesal saat ini kalau jadi sama aku. 

wkwkwkwkwk

Angin.

Gadis kecil itu menghela napas dan berkata pada angin,
"Tak sekali pun aku pernah benci padanya, angin."

"Pernah. Kamu pernah hampir membencinya," kata angin.

"Iya, tapi setelah itu aku lupa rasanya."

Angin terdiam.

"Ya sudah. Biarkan Tuhan yang menyampaikan. Kamu tak perlu."
angin segera berlalu setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Dia tak mau berlama-lama. 

Gadis itu menatap kepergian angin sambil sesekali mengusap dadanya. Dimana ada ruang kosong penuh dengan rasa sakit berada. 




yakin.

Terngiang-ngiang salah satu poin dari kajian kemarin-kemarin yang kurang lebih isinya begini, 

 "Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Kamu yakin gak kalau kamu bisa? Yakin gak kalau yang kamu pingin dan kamu minta itu terjadi? Harus yakin dulu. Nanti Allah kasih jalannya."