Blinking Hello Kitty Angel Jurnal Bunga Matahari: November 2024

Kamis, 28 November 2024

seram.

Masa depan nggak semenyeramkan yang kamu bayangkan, kok.

Emang kamu pernah bayangin masa depan yang seperti apa? 

Nggak ada, aku nggak pernah ngebayangin apa-apa.

Aku hidup di sini dulu saja. 

Rabu, 27 November 2024

ideal

Jika ke-ideal-an atau kesempurnaan di dunia itu mungkin tidak akan pernah kita dapatkan,

tidak apa-apa. 

Selama ke-tidak ideal-an dan ketidaksempurnaan itu 
tetap membuat kita dekat dengan-Nya,
dan mencegah kita jauh dari-Nya,

Itu ideal. Itu cukup. Itu sempurna.


Sehat.

Kalau nanti Allah beri kesempatan (Dan semoga iya) untuk jadi orang tua,
Aku mau jadi orang tua yang sehat.
Fisik dan psikisnya.

Terlebih psikis seorang anak itu,
ada kemungkinan 'turun' dari sang ibu.

Dia belum ada, 
tapi aku berharap fisik dan psikis yang sehat itu membuatnya selalu bahagia 
di akhirat dan dunia. 

Jumat, 22 November 2024

tenang.

"Nikah sana biar tenang..."

Hey, memangnya kamu kira Yang Memasukkan Ketenangan pada hatiku saat ini, dan Yang Memberi Ketenangan pada rumah itu, siapa? 

Sama-sama Allah, kan? 

Jadi, biarkan aku menikmati tenang yang Ia berikan ketika saat ini aku masih sendiri. 

Tenang, aku tidak pernah lupa berdoa agar Ia berikan juga ketenanngan itu nanti. 

Sayang.

Kayaknya, Allah memutuskan aku untuk tinggal 'sendiri' supaya memahami kalau satu-satunya yang menjagaku, memenuhi semua keinginan dan kebutuhanku, selalu ada, dan banyak lainnya, itu cuma Allah.

Aku tahu, tahu banget Allah sayang aku.

Tapi, kenapa suka lupa, ya.
Kenapa suka merasa nggak 'disayang', ya.

Padahal Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam yang bilang kalau, sayangnya Allah itu lebih lebih dari sayangnya ibu ke anaknya.

Kayaknya ibu kalau liat aku sekarang bakal melimpahkan sayangnya sayang sayang sayang sayang sayang sayang banget. 
Apalagi Allah.

Maafin aku, Ya Allah.

salah.

Dari kajiannya Ustad Nuzul Hafizhahullah, 
salah satu adab seorang muslim itu, menyalahkan dirinya dulu ketika terjadi sesuatu yang buruk menimpanya.

Bukan menyalahkan siapapun atau apapun. 

Maka, mungkin ini salahku juga. 

aku.

"Kamu nanti kalau sudah nikah..."
"Kalau nanti udah jadi istri orang..."


Ssst. Hei. Boleh, kah, saat ini kita bicara tentang aku yang sekarang? 

Aku, afifah, seorang perempuan, seorang anak, seorang kakak, seorang adik, seorang copywriter, seorang content planner, seorang murid, seorang....apapun! Pokoknya, aku hari ini.

Tentang aku yang nanti mungkin akan jadi istri, akan jadi ibu, akan jadi menantu, akan jadi adik ipar atau kakak ipar, atau apapun itu, bisa kita bicarakan nanti. Ya? 

Kamis, 21 November 2024

pikiranmu.

Pikiranmu itu. 

Suruh dia berhenti untuk membuat skenario-skenario semu.

Menakut-nakutimu.

Membuatmu lupa apa itu bersyukur dan bahagia.

Bilang padanya,

waktumu adalah saat ini, 

bukan kemarin, atau nanti. 

Ingatkan dia, 

bahwa bahagiamu dan semua hal yang kamu inginkan bisa diusahakan saat ini juga.

Bahkan tak perlu menunggu siapa-siapa. 

 

Menikah.

Beberapa tahun ke belakang, saat aku sedang sebal-sebalnya dengan pembahasan tentang pernikahan, aku belum tahu pasti apa tujuan menikah itu. 

Kalau hanya karena aku sendiri, akan ada saatnya nanti aku kembali sendiri. 
Kalau hanya agar bahagia, siapa yang menjamin dengan pernikahan keadaanku akan jauh lebih bahagia? 

Sepertinya, aku skeptis dengan pernikahan. 

Tapi, sekarang aku punya tujuanku sendiri.
Nanti, aku akan menikah untuk mencari teman. 

Teman dalam ketaatan.
Teman dalam kebaikan.
Dan semoga, teman yang tepat untuk saling bercerita.

Senin, 18 November 2024

baju besi.

Sepertinya aku harus mulai membuat baju besi.
Untuk sang hati. 
Karena dia lemah sekali.
Supaya kalau jatuh tidak sakit-sakit lagi.

Minggu, 17 November 2024

Baik.

Memulai sesuatu yang baik itu memang jarang yang awalnya mudah, ya.
Kebanyakan pasti terasa berat. 

mendung.

Kalau hidup rasanya sedang 'mendung'. 
Rasanya egois jika menangis.
Karena aku tahu di luar sana, semua manusia lain dapat bagian ujiannya masing-masing.
Ada temanku yang orang tuanya sedang dirawat di rumah sakit. 
Ada juga dia yang jauh dari orang tuanya dan berjuang melawan lingkungan yang tak baik.
Ada yang ini, ada yang itu. 

Tapi, rasa empati bukan berarti harus menafikan yang aku hadapi, kan? 
Aku tidak merasa istimewa atau paling hebat atau merasa ujianku paling berat. Tidak. 

Aku hanya sedang mencerna dan meregulasi apa yang terjadi. Itu saja. 

Sabtu, 16 November 2024

Hangry.

Sepertinya laki-laki masa depanku nanti harus belajar menghadapiku dari adik laki-lakiku.

Siang ini agak cranky.
Karena bingung mau makan apa tapi sudah terlanjur lapar sekali. 

Akhirnya, selesai solat langsung siap -siap ke warung untuk beli apa aja yang muncul di kepala. 

Sambil nahan rasa nggak enak di hati.

Kesal sama diri sendiri yang kenapa nggak prepare untuk makan siang nanti se-dari pagi tadi. 

Sempat terbersit menyalahkan adik yang tertidur pulas di kamarnya. Iya, dia nggak salah apa-apa. Tapi, karena dia nggak ikut berkontribusi menyelesaikan kebingunganku, pokoknya dia salah juga.

Akhirnya keluar. Jalan di tengah terik matahari. Beli ini, itu, yang aku mau, secukupnya.

Sudah sampai di rumah lagi, ketika mau membuka pagar tiba-tiba mendengar suara menggeram dari dalam saluran air. Kaget, tapi karena sedang kesal, mengusahakan tetap tenang sambil menghentakkan kaki beberapa kali supaya biawak menyebalkan itu tidak jadi naik dari tempat bersemayamnya. 

Masuk ke rumah.
Menaruh semua yang dibeli lalu membuka kamar manusia yang ternyata sudah bangun dan sibuk dengan hpnya. Memberikan cemilan yang aku tau dia suka. Lalu keluar.
Tapi, rasanya ada yang kurang.
Lalu masuk lagi hanya untuk..
"Tadi ada biawak mau keluar!"
"Dimana?" setengah mengantuk dia menjawab.
"Di depan pager!"
"Mantap." Lalu dia kembali asyik dengan hpnya.

Dan dengan jawaban se-adanya itu aku merasa puas. 
Ditambah setelah itu aku makan. 
Cranky-ku hilang. 
Setelah itu? aku mengantuk. 



Senin, 11 November 2024

Ke siapa?


Ujar seorang adik yang merasa sungkan setelah 'curhat' dan aku bilang apa yang dialaminya itu, wajar. Dulu, kayaknya aku juga ngerasa hal yang sama. 

Terus dia balas seperti itu.

Tiba-tiba, pingin nangis. 

Iya, ke siapa, ya? Seharusnya, sih, ke Allah aja. 
Iya, ya. Ternyata dulu Afifah cuma lagi banyak pertanyaan, keraguan, kebingungan, tapi, dia sendirian. 
Boleh, nggak, balik sebentar ke beberapa tahun lalu dan peluk dia sebentar, aja. Kasihan. 
Sambil bilang, sabar, ya. Nanti, beberapa tahun lagi, kamu tahu satu persatu jawabannya. Hikmahnya. 
Kamu, nggak sendirian. 

Ada Allah, kan.